Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Masa Depan Energi Terbarukan Dunia Ada di Tangan Indonesia!

Posted by ropiudin pada 10 Mei 2012


Indonesia kini berada di masa-masa paling penting dalam sejarah energi dunia! Di saat krisis energi diramalkan akan terjadi 30 tahun ke depan karena habisnya minyak bumi,  Indonesia masih bisa tenang-tenang saja karena kita memiliki Kartu As energi terbarukan di dunia. Apa kartu as tersebut? Mari perkenalkan primadona komoditas ekspor nomor satu dari Indonesia, kelapa sawit!

Sekitar bulan Juli 2011 lalu, saya mendapatkan undangan untuk menghadiri Diskusi: Industri Sawit Pasca Moratorium, Mau Kemana? Acara ini diselenggarakan oleh majalah Warta Ekonomi di HotelIntercontinental yang menghadirkan 5 narasumber yang berkompeten di bidangnya, di antaranya:
1. Heru Prasteyo (Deputi I UKP4)
2. Christianto Wibisono (Pengamat Ekonomi)
3. Firman Soebagyo (Komisi IV DPR)
4. Maruli Gultom (Preskom PTPN V / Dewan Pembina GAPKI)
5. Asmar Arsyad (Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit)

Sustainibilitas Sawit Indonesia Sangat Tergantung pada Ketegasan Pemerintah

Diskusi ini berlangsung hangat dan menarik mengingat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu baru saja menandatangai Inpres No. 10/2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Keberadaan Inpres ini banyak menuai kecaman dan kritik dari berbagai pihak. Begitu pula dengan program REDD+ yang dipandang sebelah mata oleh pengusaha sawit. Perusahaan-perusahaan sawit besar yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyayangkan kemunculan Inpres ini. Setelah menghadiri pertemuan ini, akhirnya saya mengurungkan niat untuk berbisnis kelapa sawit. Mengapa perkebunan sawit mendapat sorotan paling tajam dibanding produk perkebunan lain? Mengapa bisnis kelapa sawit pantas disebut sebagai bisnis paling kontroversial di Indonesia? Agar tidak terjerumus dari momentum energi bersejarah ini, Indonesia harus tegas menerapkan sustainable palm oil. Seperti apa kontroversi sawit yang perlu kita carikan solusinya segera? Mari kita simak ulasan tajam dan lugas berikut:

1. CPO = Cruel Palm Oil

Para aktivis lingkungan banyak memelesetkan kepanjangan CPO yang harusnya Crude Palm Oilmenjadi Cruel Palm Oil. Mengapa tanaman ini sangat dimusuhi oleh para aktivis lingkungan hidup dan dijuluki “tanaman bengis”? Salah satu alasan utama yang tidak diketahui orang banyak adalah fakta bahwa sawit sangat rakus air. Sawit  menyedot air dalam jumlah yang sangat besar hingga ke dalam tanah. Ketika 1 wilayah sudah dijadikan perkebunan sawit, maka wilayah tersebut sangat sulit untuk ditanami kembali oleh tanaman lain. Tanah yang sudah ditanami oleh kelapa sawit menjadi kehilangan unsur hara sehingga ekosistem di sekitarnya menjadi rusak dan tak seimbang lagi. Selain hal ini, timbul banyak masalah turunan lain dari komoditas nomor 1 di Indonesia ini.

2. Kerusakan Hutan Indonesia 28 Juta Hektar, Seluas Negara Filipina!

Gambar di samping adalah laju deforestasi Indonesia yang sangat cepat. Miris rasanya ketika 5 tahun lalu, tahun 2007, kita melihat iklan layanan masyarakat mengenai kerusakan hutan di Indonesia namun sampai sekarang tidak banyak yang peduli. Dalam iklan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kehutanan tersebut disebutkan bahwa laju perusakan hutan Indonesia adalah 1,8 juta hektar per tahun. Dalam 1 menit perusakan hutan terjadi seluas 5 kali luas lapangan sepak bola. Dengan kata lain, dalam satu jam hutan seluas 300 lapangan sepak bola rusak. Padahal hutan ini tidak bisa dibuat lagi oleh manusia karena merupakan proses alam yang terjadi selama ratusan tahun. Perambahan hutan yang tak terkendali untuk perkebunan sawit dituding sebagai penyebab nomor satu deforestasi. Pemerintah daerah dengan gampangnya memberikan konsesi sawit ke para pengusaha. Akibatnya deforestasi Indonesia tidak terbendung lagi.

Padahal di sisi lain, luas hutan Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah hutan di Amerika Selatan. Kondisinya saat ini adalah rata-rata laju deforestasi hutan di Indonesia dari tahun 1990 sampai 2010 mencapai 1,2 juta hektar per tahun. Dari tahun 1990 hingga 2005 luas hutan di Indonesia telah berkurang seluas 28 juta hektar atau seluas negara Filipina. Hutan tropis maupun hutan gambut tidak sama dengan hutan tanam industri. Perkebunan sawit tidak pantas disebut hutan. Biar bagaimana pun ekosistem yang heterogen tidak mungkin bisa digantikan dengan ekosistem yang homogen. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, kerugian negara akibat kerusakan hutan mencapai Rp 180 triliun. Apakah 180 triliun ini sebanding dengan ekspor sawit kita? Tentu tidak. Uang bisa dicari namun hutan yang hilang serta satwa yang punah tidak mungkin bisa dikembalikan lagi. Sesal kemudian tidak berguna.

Bank Dunia sendiri sangat serius menanggapi isu deforestasi Indonesia. Bank Dunia sempat menghentikan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan kelapa sawit pada September 2009 akibat perusakan lingkungan yang sangat parah di hutan Sumatra dan Kalimantan. Lembaga swadaya internasional Greenpeace dan World Wildlife Foundation (WWF) juga ikut menyerang industri kelapa sawit dengan menyebut “Palm oil: enemy number one of Indonesia’s tropical rainforests”.

3. Orang Utan Dianggap Hama Sawit

Selamat datang perkebunan sawit, selamat tinggal orang utan! Itulah harga yang harus dibayar untuk industri sawit ini. Perluasan lahan sawit mau tidak mau merusak habitat orang utan, beruang dan harimau. Tidak tanggung-tanggung, orang utan bisa tiba-tiba masuk ke rumah penduduk untuk mencuri nasi. Hal ini mereka lakukan karena memang sudah tidak ada makanan lagi karena hutan mereka sudah dirusak. Beruang dan harimau juga sudah kehilanggan tempat tinggalnya, akhirnya penduduk sipil merasa jiwanya terancam dari hari ke hari. Orang utan pun dibantai secara keji atas perintah para pengusaha sawit. Satu ekor orang utan dihargai 500 ribu sampai 1 juta rupiah oleh pengusaha sawit. Padahal tidak ada maksud orang utan dan satwa liar lainnya mengganggu perkebunan sawit serta rumah penduduk. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Manusia telah menjadi monster bagi alam, tahun 2011 sajaWashington Post mencatat 750 orang utan terbunuh di Kalimantan. Padahal orang utan adalah satwa endemik Indonesia dan satu-satunya habitat asli mereka adalah Indonesia.

4. 50% Lahan Sawit Indonesia Dikuasai Asing

Untuk siapakah sawit Indonesia? Walhi mencatat bahwa saat ini 50% lahan sawit Indonesia telah dikuasai asing dengan Malaysia sebagai pemiliki mayoritas, sebesar 26%. Konglomerasi Malaysia,Sime Darby (perusahaan sawit terbesar di dunia), sampai saat ini sudah mengantongi konsesi sawit sekitar 300.000 hektar melalui Minamas Plantation. Dengan dukungan modal yang kuat serta teknologi yang lebih canggih akibatnya banyak perusahaan sawit Indonesia yang tidak bisa bersaing. Jadi sudah jelas bahwa keuntungan bisnis sawit Indonesia justru banyak dinikmati oleh asing. Dengan kepemilikan asing sebesar 50%, kondisi Indonesia sekarang jauh lebih parah daripada masa tanam paksa (cultuurstelsel) penjajahan Hindia Belanda, yang hanya mewajibkan 20% lahan petani untuk ditanami tanaman perdagangan. Bukankah ini sangat tragis? Tanah Indonesia hanya dijadikan sapi perahan dan disedot habis-habisan air tanahnya demi perkebunan sawit.

5. Kasus Mesuji – Pembantaian 30 Warga oleh Perusahaan Sawit

Pantaslah jika bisnis sawit disebut sebagai bisnis paling kontroversial di Indonesia. Inilah satu-satunya bisnis di Indonesia yang dibangun di atas tangisan, darah dan air mata rakyat kecil! Tidak hanya orang utan yang dibantai demi bisnis sawit, tapi juga termasuk manusia! Pembantaian dan kekerasan sadis di Lampung tega dilakukan oleh PT Silva Inhutani, milik warga negara Malaysia bernama Benny Sutanto alias Abeng, demi melakukan perluasan lahan sawit. Penduduk setempat yang tadinya menanam sengon dan albasia menolak keras ekspansi lahan perusahaan ini. Akhirnya PT Silva Inhutani membentuk PAM Swakarsa yang juga dibekingi aparat kepolisian untuk mengusir penduduk. Pasca adanya PAM Swakarsa terjadilah beberapa pembantaian sadis dari tahun 2009 hingga 2011. Kurang lebih 30 orang sudah menjadi korban pembantaian sadis dengan cara ditembak, disembelih dan disayat-sayat. Sementara ratusan orang mengalami luka-luka dan diantara mereka ada yang mengalami trauma dan stres berat. Kesadisan yang dilakukan atas nama bisnis sawit ini mengingatkan kita kembali pada film G30S/PKI. Ironisnya, aparat kepolisian kita yang seharusnya bisa melindungi dan mengayomi kepentingan masyarakat sipil justru mau menjadi kaki tangan pengusaha Malaysia.

6. Hengkangnya GAPKI dari RSPO

Roundtable on Suistanable Palm Oil (RSPO) sangat menyayangkan langkah Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) yang keluar dari keanggotaan RSPO pada 22 September 2011 lalu. Padahal RSPO merupakan LSM internasional yang sudah ada sejak tahun 2004, jadi sudah dikenal di Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara lainnya. RSPO adalah sebuah organisasi internasional yang memberikan sertifikasi pada komoditas CPO. Sertifikasi RSPO pada CPO inilah yang menyatakan bahwa komoditas CPO tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan bagi lingkungan hidup.

WWF juga ikut menyayangkan keluarnya GAPKI dari keanggotaan RSPO mengingat hingga saat ini RSPO adalah skema sertifikasi kelapa sawit yang paling diakui oleh pasar dan memenuhi standar global kelestarian lingkungan hidup. Dari hengkangnya GAPKI ini kita bisa melihat bahwa para pengusaha sawit Indonesia ingin menang sendiri dan tidak mau tunduk pada sertifikasi internasional yang mendunia. Di sisi lain, Malaysia sebagai penghasil sawit terbesar kedua di dunia terlihat lebih arif dengan tetap mempertahankan keanggotaannya di RSPO. Keluarnya GAPKI dari RSPO ini pula yang menjadi salah satu penyebab Amerika Serikat menolak sawit Indonesia dengan alasan tidak ramah lingkungan. Selain AS, selama ini Uni Eropa juga mempersyaratkan standar RSPO pada ekspor kelapa sawit ke kawasan itu. Jadi ada kemungkinan juga ke depannya negara-negara lain akan ikut menolak sawit Indonesia dan lebih memilih sawit Malaysia yang sudah memiliki sertifikasi internasional dari RSPO.

7. Sawit Indonesia Ditolak Amerika Serikat

Sejak 28 Januari 2012 lalu ekspor produk kelapa sawit asal Indonesia ditolak masuk ke Amerika Serikat (AS) karena tudingan tidak ramah lingkungan. Keputusan AS tersebut diambil setelah negara adidaya tersebut menerima pengaduanEnvironmental Protection Agency, otoritas setempat yang perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup. Penolakan AS ini tentu membuat daya saing kelapa sawit Indonesia melemah. Oleh karena itu, wajar jika Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, turut berang. Namun menyalahkan dan mengkambinghitamkan AS atas boikot ini adalah tindakan yang tidak tepat. Janganlah buruk rupa cermin dibelah.

8. Perkebunan Sawit Tidak Menyerap Banyak Tenaga Kerja

Perlu kita ketahui bersama bahwa bisnis perkebunan kelapa sawit tidak menyerap banyak tenaga kerja. Untuk menjaga lahan sawit seluas 2 hektar cukup diperlukan 1-2 orang petani sawit. Untuk skala perkebunan yang lebih luas tentu sumber daya manusianya juga semakin efisien. Secara nasional, dari 8 juta hektar lahan sawit Indonesia yang ada, hanya mampu menyerap 4 juta tenaga kerja. Itu berarti secara rata-rata, setiap 2 hektar lahan sawit yang dibuka hanya mampu menyerap 1 tenaga kerja saja! Ekspor sawit mentah bukanlah bisnis yang padat karya. Pemerintah harus menghentikan perluasan lahan sawit dan mulai berfokus pada industri pengolahan produk turunan lahan sawit yang sangat bervariasi. Ekspor sawit mentah ke mancanagera bukanlah pilihan yang baik karena nilai tambahnya sangat rendah. Dalam ilmu ekonomi, kita belajar bahwa semakin tinggi nilai tambah yang kita berikan pada suatu barang maka akan semakin tinggi pula nilai jualnya. Namun sayangnya hal ini tidak terjadi di Indonesia, banyak usaha manufaktur yang gulung tikar karena tidak tahan dengan ekonomi biaya tinggi di negeri ini. Banyaknya pungutan liar, sulitnya perizinan serta masalah perburuhan yang tidak pernah selesai selalu menjadi momok bagi para pengusaha untuk terjun ke industri manufaktur pengolahan produk turunan sawit.

Letak Kontroversi Bisnis Sawit

Di sisi lain, kelapa sawit memang memiliki produktivitas minyak paling tinggi dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya seperti kedelai, bunga matahari dan rapeseed.Produktivitas minyak sawit adalah 3,74 ton/ha/tahun, sangat tinggi jika dibandingkan dengan produktivitas minyak kedelai yang hanya 0,38 ton/ha/tahun, minyak bunga matahari 0,48 ton/ha/tahun, dan minyak rapeseed sebesar 0,67 ton/ha/tahun.

Saat ini Indonesia adalah produsen dan pengekspor sawit terbesar di dunia. Produksinya sekitar 50% produksi dunia. Pada tahun 2010 ekspor sawit Indonesia mencapai 19,8 juta ton dan menyumbang US$9,11 miliar dalam APBN. Kontribusi sawit terhadap PDB Indonesia adalah 1-1,5%.Angka ini cukup beasr, akan tetapi tidak sebesar sektor bisnis yang lain apabila kita  bandingkan dengan kontribusi usaha hotel, ritel dan kontruksi, dan sebagainya. Pemerintah yang menargetkan ekspor CPO 40 juta ton pada tahun 2020 akan membutuhkan tambahan lahan 12 juta hektar agar bisa memenuhi target tersebut. Di sinilah letak kesalahan pemerintah. Pemerintah terlalu malas untuk mengeksplorasi lebih lanjut produk turunan sawit dan hanya berfokus pada ekspor minyah mentah yang nilai tambahnya sangat rendah. Seharusnya fokus utama pemerintah bukanlah membuka lahan sawit baru melainkan menggenjot produktivitas sawit nasional yang saat ini masih tertinggal jauh dibanding Malaysia serta memberikan insentif bagi para pengusaha di industri pengolahan produk turunan sawit. Ketegasan pemerintah dalam penerapan regulasi ada tentunya akan mampu menjaga kelestarian hayati.

Sorry, the comment form is closed at this time.