Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Hydrogen Fuel, Energi Alternatif BTS Paling Bersih

Posted by ropiudin pada 23 Juni 2011


Tri mengklaim telah memiliki sekira 472 unit BTS yang menggunakan Hydrogen Fuel Cell. Hingga akhir tahun ditargetkan sekira 600 BTS.

BTS dengan energi hidrogen itu sejatinya telah dioperasikan pertama kali oleh Tri sejak 2009 lalu. Tepatnya pada Februari 2009 telah terdapat sekira 10 BTS hidrogen Tri. Kemudian pada November 2009 diperluas menjadi sekira 200 BTS, pada akhir 2010 bertambah lagi menjadi 318 BTS.

“Hari ini kami meresmikan BTS hidrogen kami yang ke-472. Diharapkan tahun depan kami bisa mencapai target hingga 600 BTS,” ujar Presiden Direktur Tri, Manjot Mann, kepada wartawan di Bogor, Rabu (9/3/2011).

Peresmian BTS yang terletak di Jl. Tumapel no 28 blok 0-V/14, Perum Cimanggu Permai, Kedung Badak, Bogor ini dihadiri pula oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, Dirjen Energi Baru Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Luluk Sumiarso, dan Anggota Komisi I Max Sopacua.

Menurut Mann, teknologi energi alternatif yang digunakan BTS ini menggunakan energi hidrogen yang bersih, bebas polusi hemat energi dan ramah lingkungan karena hasil pembuangannya berwujud air murni sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan.
“Keuntungan lain adalah peningkatan biaya listrik, memberikan cadangan listrik yang lebih tahan lama, serta menghemat biaya perawatan,” ujar Mann.

Pihaknya mengklaim jika Tri merupakan operator pertama yang mengimplementasikan energi ini di Asia Tenggara. Energi hidrogen ini pertama kali digunakan oleh NASA dan Tri merupakan operator pertama yang menggunakannya secara komersil dan berskala besar di Asia Tenggara.

“Operator lain sebenarnya sudah ada yang pakai. Di AS ada 4 operator yang sudah menggunakan BTS hidrogen, di Eropa ada 3, di Amerika Selatan ada 2, dan di Asia ada 2, termasuk Hutchison,” ujar Mann.

Sebelum menggunakan hidrogen, lanjut Mann, sebenarnya pihak Tri sempat mempertimbangkan solusi energi alternatif lain, seperti tenaga angin dan panel surya.

“Namun berdasarkan riset kami, Indonesia tidak memiliki angin yang cukup besar untuk dijadikan energi alternatif BTS. Sedangkan untuk panel surya, investasinya kami anggap cukup mahal dan dibutuhkan waktu lama serta lokasi yang cukup besar,” tandasnya.

Pemerintah sendiri menyambut baik langkah Tri dalam mengimplementasikan energi alternatif ini. Menurut anggota Komisi I DPR, Max Sopacua, pemerintah sangat mendukung penggunaan energi alternatif meski kebijakannya juga harus tersosialisasi dengan baik.

“Kita masih perlu banyak BTS berbahan bakar hidrogen. Dari 33 provinsi, baru ada 472 unit dari Tri. Hal ini harus dikembangkan dan tersosialisasi dengan baik sehingga tidak hanya dinikmati oleh kalangan tertentu,” ujar Max Sopacua.

Sorry, the comment form is closed at this time.