Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Visi Energi Baru dan Terbarukan Indonesia

Posted by ropiudin pada 20 Mei 2011


Dalam KTT ASEAN ke-18 di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membawa dua tema besar. Salah satunya adalah energi.

Melihat peningkatan jumlah penduduk dunia diperkirakan akan menjadi 9 miliar dari 7 miliar pada 2045, presiden mengajak negara-negara ASEAN untuk memvariasikan penggunaan energinya. Sekaligus, peningkatan penggunaan energi terbarukan. Sebab, energi fosil semakin sedikit berikut dampak penggunaannya terhadap lingkungan. Selain itu, harga bahan bakar fosil terus menerus melambung sehingga menguras subsidi negara.

Komitmen Presiden SBY ini merupakan suatu langkah yang harus didukung. Sebab, di negeri sendiri pun, Presiden SBY telah menunjukkan komitmen terhadap upaya peragaman energi di tanah air sendiri. Presiden SBY telah baik dalam memulai langkah dalam mewujudkan kemandirian energi di Indonesia sebagai salah satu upaya mengatasi kemelut energi yang sedang dan akan semakin parah terjadi di masa yang akan datang.

Bulan Agustus 2010, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh meresmikan Direktorat Jendral Energi Baru dan Terbarukan yang dipimpin oleh Luluk Sumiarso. Pembentukan Dirjen baru ini semakin mempertegas langkah Indonesia dalam menggapai cita-citanya terhadap kemandirian energi di tanah air sendiri sekaligus memperbesar penggunaan energi terbarukan sesuai dengan fungsinya, yaitu: a) perumusan kebijakan di bidang energi baru, terbarukan, dan konservasi energi; b) pelaksanaan kebijakan di bidang energi baru, terbarukan, dan konservasi energi; c) penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang energi baru, terbarukan, dan konservasi energi; d) pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang energi baru, terbarukan, dan konserilasi energi; e) pelaksanaan administrasi Dirjen EBT

Lewat Dirjen Baru tersebut, energi baru dan terbarukan semakin diperkenalkan kepada masyarakat. Paradigma masyarakat mulai diubah perihal energi baru dan terbarukan tersebut. Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Bapak Hasrul yang berada dalam naungan dirjen Energi Baru dan Terbarukan menyatakan bahwa energi baru dan terbarukan mulai sekarang tidak lagi disebut sebagai energi alternatif. Sebab, potensinya sangat besar untuk menjadi penyuplai energi utama di Indonesia menyaingi minyak bumi.

Pengubahan paradigma tersebut pun tercanang sebagai salah satu tugas utama direktorat ini. Saat ini, penggunaan energi tercakup oleh energi fosil yang kurang ramah lingkungan serta memakai subsidi negara. Sedangkan, energi baru dan terbarukan hanya dipandang sebagai alternatif. Konservasi energi pada berbagai bidang dalam sektor penting belum berjalan. Rencana dari dirjen EBT adalah mengupayakan konservasi secara maksimal serta melakukan diversifikasi dengan energi baru dan terbarukan. Sedangkan, energi fosil hanya sebagai penyeimbang.

Rencana tersebut tercanangkan dengan jelas pada visi 25/25 yang sedang diusung dan diupayakan oleh Indonesia melalui kementerian ESDM. Visi 25/25 berarti penggunaan energi terbarukan pada 2025 sebanyak 25%. Saat ini, Indonesia baru menggunakan energi baru dan terbarukan sebanyak 4,4 %. Visi 25/25 termasuk menurunkan penggunaan minyak bumi sebanyak 13.9 % (sekarang 43,9 menjadi 30%) dan batu bara sebanyak 8,7% (Sekarang 30,7% menjadi 22%).

Pencapaian visi 25/25 adalah dengan melakukan diservikasi energi secara bertahap. Tahapan-tahapan termasuk sosialisasi, alih teknologi, eksekusi rencana. Ada beberapa sektor energi yang dapat diperkuat seperti Geotermal dan Biomassa. Dirjen EBT telah membuat direktur-direktur khusus untuk berkonsentrasi pada kedua energi terbarukan yang sangat kaya di Indonesia ini. Sedangkan, pemetaan jangka panjang ada dalam pemetaan dan pengembangan energi baru terbarukan lain.

Peran serta pemerintah terutama pemerintah daerah sangatlah diperlukan dalam memuluskan visi Indonesia mengenai energi. Sebab, pemanfaatan energi terbarukan yang lebih banyak terdapat pada daerah-daerah sering dilintangi tembok besar yaitu pemerintah daerah sendiri. Alih teknologi dapat dilakukan tentu saja dengan merangkul kampus-kampus sebagai mitra dalam penelitian di bidang energi baru terbarukan. Hal ini mulai dilakukan dengan dirjen yang terus menerus aktif dalam berbagai seminar di kampus-kampus. Sosialisasi juga aktif dilakukan oleh dirjen ini apalagi dengan dibuatnya berbagai saluran informasi baru seperti WEB, Facebook, Twiter, dan lain-lain. Tantangan yang lain adalah kemampuan untuk menarik investor-investor untuk berinvestasi pada ranah ini.

Tercapainya visi 25/25 akan membawa dampak yang sangat baik bagi Indonesia. Pertama, Indonesia akan menjadi negara yang semakin mandiri akan energi. Kedua, Indonesia akan menjadi model bagi negara-negara lain mengenai pemanfaatan energi. Ketiga, Subsidi BBM yang amat besar dapat ditekan. Keempat, Indonesia dapat bertanggung jawab akan kekayaan alamnya serta menunjukkan komitmennya pada lingkungan.

Sorry, the comment form is closed at this time.