Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Demam Bioetanol

Posted by ropiudin pada 12 April 2011


Yuk, kita lanjutkan obrolan di postingan tanggal 17 Mei 2009, pada “demam bioetanol” (jilid 1). Kalau pada minggu lalu, kita udah diskusi manfaat bioetanol yakni aplikasi pada kompor, sekarang kita bahas pengadaan bioetanol. Saya berpendapat masalah ini penting, karena jangan sampai masyarakatjatuh cinta pada bioetanol yang diintroduksi sebagai bahan bakar kompor pengganti minyak tanah (mintan) bahkan pengganti elpiji. Tapi ….akhirnya masyarakat tetap harus antri untuk mendapatkan bioetanol.

Apa sih bioetanol

Bioetanol adalah etanol yang diproses dari biomassa tumbuhan yang banyak mengandung karbohidrat. Etanol ini diperoleh dengan proses fermentasi melalui bantuan mikroorganisme yakni ragi. Penamaan bio adalah untuk membedakannya dari etanol yang diproses dari minyak bumi (minyak fosil) melalui proses hidrasi etilena dengan katalis asam. Sering masyarakat merancukan etanol dengan penyebutan alkohol. Padahal, etanol hanya termasuk satu jenis dari beberapa senyawa alkohol. Ada alkohol lain yang cukup beken misal metanol yang digunakan antara lain sebagai bahan pembantu pembuatan biodiesel, bahan pembuat formalin, dan lain-lain.

Bioetanol bahan multi guna

Bioetanol atau etanol adalah senyawa kimia yang seharian kita gunakan. Jangan tergesa protes bahwa Anda bukanpeminum alkohol ! Pagi hari, setelah bangun tidur, bila berkumur misal dengan listerine, maka kita memakai bioetanol. Sikat gigi dengan pasta gigi, dan juga mandi dengan sabun wangi maka terdapat pula senyawa bioetanol. Merawat rambut dengan shampo dan hair tonic artinya pakai bioetanol. Menggunakan deodoran, lanjut semprot-semprot dengan parfum, merawat wajah dengan cream atau larutan pembersih wajah pastilah mengandung bioetanol. Sebatang rokok mengandung pula bioetanol pada saus tembakaunya. Ngepel lantai agar kling dan suci hama maka ditambahkan larutan pembersih lantai ke air pel, pada hakikatnya pakai bioetanol. Bahan semprot agar baju licin dan harum pada proses setrika mengandung bioetanol. Mencuci pakaian dengan deterjen, pastilah ada bioetanol. Membasuh tangan dengan tisue basah atau larutan pembersih tangan –penting saat ini karena flu babi- misal merk Nuvo, Dettol, Antis, dan lain-lain pada prinsipnya mengandung bioetanol. Semir sepatu pun mengandung bioetanol. Apalagi bila kita sakit, bioetanol menempati porsi utama di rumah sakit atau tempat praktek dokter antara lain sebagai disinfektan atau kompres di demam tinggi. Bahkan dalam obat batuk cair, balsem, parcok (param kocok), minyak angin, cairan penolak nyamuk misal Autan, dan lain-lain . Minuman kebugaran misal Krating Daeng, Extra Joss, dan lain-lain dapat dipastikan ber-etanol. Demikian juga minuman anggur kesehatan antara lain cap orang tua. Sejumlah minuman dan makanan tradisional kerakyatan dipastikan pula mengandung bioetanol, antara lain pada brem, tape, legen, tuak, sopibadek, saguercap tikus, ciu, moke,balo, anding.

Tidak hanya itu, bioetanol digunakan pula di berbagai tinta mulai dari tinta tulis, cetak, printer, sampai foto copy, dan bahan kimia di fotografi serta berbagai lem. Pada pembuatan asam asetat (sebagai bumbu dapur, pembersih lantai kusam, dipakai pada shower dan pipa wastafel mampet, dan lain-lain), di rekayasa kloroform sebagai obat bius. Juga pada pembuatan plastik PE dan PVC, dan pestisida. Dan kini, sebagai campuran bahan bakar kendaraan bermotor yang diyakini ramah lingkungan namun mampu meningkatkan kinerja –istilah teknisnya angka oktan- bahan bakar premium. Karena multi guna inilah maka muncul demam (industri) bioetanol di Indonesia !

BioPremium

Pemerintah menetapkan kewajiban minimal pemanfaatan bioetanol –istilah keren-nya mandatori- sebagai pencampur premium. Sejak 1 Januari 2009, premium bersubsidi (Public Service Obligation PSO) yang diedarkan di Indonesia harus diblend dengan 1% bioetanol yang diberi merk Biopremium, pada premium non PSO –yakni BioPertamax- di blend 5% bioetanol. Hal yang sama pada premium untuk industri dan komersial diwajibkan mencampur bioetanol sebesar 5%. Ntar 1 Januari 2010 blending ditingkatkan, PSO menjadi 3%, Non PSO ke 7%, dan industri serta komersial ke 7%. Bertahap sampai tahun 2025, semua katagori premium diwajibkan di oplosh dengan bioetanol sebesar 15%. Cukupkah produksi bioetanol Indonesia?

Permasalahan pabrik

Dipastikan mandatori di tahun 2009 tidak akan tercapai ! Why? Karena Indonesia hanya memiliki satu pabrik bioetanol yang mampu mensuplai Pertamina. Standar Nasional Indonesia mengemukakan hanyalah bioetanol berkadar 99,5 % -disebut Fuel Grade Ethanol-FGE atau anhydrous ethanol atau etanol kering atau etanol non hidrat- yang diijinkan digunakan di kendaraan bermotor. Sebenarnya Indonesia memiliki lebih kurang 10 pabrik bioetanol (yang terdaftar sebagai anggota Asendo-Asosiasi Spritus dan Etanol Indonesia), dengan produksi lebih kurang 177,5 ribu kiloliter per tahun, namun pabrik-pabrik ini hanya mampu memproduksi bioetanol berkadar 95%, hydrous ethanol (HE), atau etanol berhidrat atau etanol basah yang dikatagorikan sebagai etanol industri. Bioetanol inilah yang memasok kebutuhan seharian kita seperti kita bahas di atas, dan lebih kurang 45%- an dari produk tersebut di ekspor antara lain ke Jepang. Seperti di atas, udah kita bahas, hanya PT Molindo Raya Industrial di Lawang-Malang Jawa Timur yang mampu mampu membuat FGE (dan sebuah pilot plant BPPT-BBTP [Balai Besar Teknologi Pati] di Lampung dengan “nama swasta” PT Anugrah Kurnia Abadi).

Indonesia tidak mampu memenuhi mandatori bioetanol di tahun 2009! Bagaimana kondisi anhydrous ethanol pada tahun-tahun mendatang ? Bagaimana mengatasi permasalahan ini? Cara termurah dan termudah, adalah mengganti anhydrous ethanol dengan hydrous ethanol. Menggunakan etanol berhidrat sebagai pengganti etanol anhidrat ! Namun apakah tidak rusak kendaraan bermotor dengan HE ? Data dan fakta terkini menunjukkan kemungkinan penerapan HE sebagai BBN. Negeri Belanda mulai Juli tahun 2008 menerapkan teknologi HE-15, dan tampaknya “wet ethanol better tahan dry ethanol

Seyogianya pemerintah mengkaji “teknologi sederhana” pencampuran etanol basah sebagai BBN. Atau Anda mempunyai saran lain ? Insya Allah, sebuah yayasan nir laba didukung sebuah perusahaan Belanda dan Pemda akan menerapkan penggunaan etanol basah pada sejumlah angkot di kota Sukabumi, Jawa Barat. Mereka akan mengoperasikan sebuah pabrik bioetanol –saat ini mangkrak– yang pendiriannya didanai Departemen Pertanian melalui GAPOKTAN.

Permasalahan bahan baku

Hampir 100 % pabrik bioetanol di Indonesia memakai tetes tebu sebagai bahan bakunya. Tetes tebu disebut pula molases adalah produk pendamping (side product) dari pabrik gula. Saya lebih senang menyebut tetes sebagai produk pendamping bukan produk samping (by product). Apalagi menyebutnya sebagai limbah yang terkatagori “barang buangan” yang tidak berharga. Saat ini tetes tebu lagi “naik daun”, para pabrikan bioetanol menobatkannya sebagai “emas hitam” karena supply demand yang tidak seimbang.

Yuk, kita berhitung ketersediaan tetes di Indonesia. Purata produksi tetes lebih kurang 1,4 juta ton per tahun, digunakan oleh industri bioetanol industri dan spiritus sejumlah 600 ton/tahun, industri MSG (bumbu masak antara lain Ajinomoto, Sasa, dan lain-lain) serta pakan ternak (antara lain PT Miwon di Pasuruan, Jawa Timur) sebesar 600 ton/tahun, dan diekspor sejumlah 200 ton/tahun (data 2008 mencatat ekspor mencapai 400 ton karena demand meningkat). Jadi sebenarnya tetes telah terserap habis. Namun kita anggap aja Indonesia tidak ekspor tetes maupun bioetanol, sehingga ada persediaan tetes sejumlah 800 ton untuk program BBN.

Kompas, 30 Januari 2009 memberitakan bahwa di tahun 2009 direncanakan Indonesia membutuhkan 194,444 kiloliter Biopremium. Dengan konversi tetes ke bioetanol sebesar 4:1 maka dibutuhkan tetes tebu sebesar 780 ton sebagai bahan baku bioetanol untuk mencampur premium menjadi biopremium sesuai mandatori sebesar 1%. Artinya 98 % tetes tebu akan terserap program BBN! Ini adalah mustahil, karena bagaimana dengan pasokan ke industri pengguna etanol industri? Bagaimana dengan pasokan ke program premium non PSO, biopertamax ? Bagaimana dengan program mandatori untuk premium industri dan komersial ?

Singkong, Sorgum, Aren ?

Dengan hitung menghitung di atas, maka tetes tebu sebagai bahan baku bioetanol untuk pengganti mintan dan elpiji sulit untuk dilaksanakan. Suatu hari, sami mawon masyarakat akan antri bioetanol. Sejumlah pakar menganjurkan singkong alias ubi kayu sebagai pengganti tetes tebu. Apakah tidak akan terjadi persaingan pangan, pakan, dan energi ? Data menunjukkan Indonesia di tahun 2007 mengimpor tepung tapioka sejumlah 300.000 ton, dan angka impor ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Sejumlah pakar lain menyarankan mengkaji penggunaan sorgum manis, karena komoditas ini bukanlah bahan pangan utama di Indonesia. Produktivitas biji sorgum lebih kurang 40-100 gram/ batang atau 4-5 ton per ha yang dapat digunakan sebagai tepung pengganti terigu, pengganti beras, pakan, dan bahan baku bioetanol (bahkan lebih efisien dibanding singkong). Daunnya sebesar 200-400 gram/batang atau 12-16 ton per ha yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Batang sorgum seberat 200-400 gram/batang atau 30-50 ton per ha, yang berfungsi sebagai niranya untuk bahan baku bioetanol, ampas batang untuk pakan ternak dan bahan bakar pabrik bioetanol, bahkan pulp. Insya Allah , di postingan berikut kita akan diskusikan pengelolaan sorgum terpadu.

Ataukah aren lebih berdaya guna sebagai bahan baku bioetanol ? Seperti kita tahu, Pak Prabowo- Partai Gerinda mencanangkan 8 program aksi untuk kemakmuran rakyat. Program ke-3 : melaksanakan ekonomi kerakyatan, berbunyi “mencetak 4 juta ha lahan untuk aren (bahan baku bio ethanol) yang dapat mempekerjakan 24 juta orang “. Dipertegas di program ke-6 : kemandirian energi, yang mendeklarasikan akan “membuka 2 juta hingga 4 juta Ha hutan aren – dengan sistem tanam tumpangsari – untuk produksi bahan bakar ethanol, sebagai pengganti BBM impor. Pembukaan lahan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pengekpor bahan bakar nabati setelah 7 tahun masa tanam (4 juta Ha hutan aren menghasilkan sekitar 56 juta mt ethanol/tahun)”.

Salut dan hebat, program Pak Prabowo! Semoga terlaksana agar bioetanol tidak sekadar ”demam atau mimpi” tapi jadi kenyataan….membuka 2-4 juta kebun aren dalam tujuh tahun. Tidak seperti program tanaman jatropha yang diprogramkan mencapai 1,5 juta hektar pada tahun 2010, namun kini tanaman jarak pagar tersebut menjadi ”jarak jauh” Tapi kita harus “sadar dan mawas diri” atas kemampuan kita. Coba kita tengok kelapa sawit Indonesia, yang jadi kebanggaan ekspor non migas. Luas kelapa sawit, ditahun 2008 adalah seluas 6.611.000 ha. Luas ini dicapai dengan perjuangan selama 28 tahun yang dimulai tahun 1980 dengan start seluas 290 ha.

Empat Cermat

Obrolan kita menyimpulkan bahan baku merupakan permasalahan secara nasional pada program bioetanol. Apakah Anda sependapat ? (sebenarnya kita memiliki potensi bahan baku bioetanol di tanaman sagu dan nipah yang belum terjamah) Bila Anda setuju, seyogianya kita harus berhati-hati, khususnya dalam pembangunan pabrik bioetanol skala besar. Janganlah dipaksakan pembangunan pabrik-pabrik bioetanol, tanpa analisa yang saksama yakni 4 C (cermati bahan baku, cermati bahan bakar murah namun pro planet, cermati infrastruktur, dan cermati pasar).

Bagaimana dengan pabrik bioetanol skala mini atau mikro, skala rumahan atau yang saat ini disebut skala Gapoktan khususnya dalam rangka Desa Mandiri Energi di daerah-daerah remote ? Tampaknya bioetanol skala mikro mungkin berhasil, utamanya pada sentra-sentra bahan baku (singkong dan sorgum atau mungkin juga di daerah sentra aren, dan sagu? ). Namun survey keberlangsungan pasokan bahan baku mutlak harus dilakukan!

Jangan meniru program jarak pagar! Ratusan alat pemerah biji jarak, puluhan alat pengolahan minyak murni jarak pagar (PPO-Pure Plant Oil) yang dibagikan oleh pemerintah di tahun 2007-2008 mangkrak karena peralatan tersebut menunggu biji jarak yang tidak jua datang. Akhir kata, bila kita bijak melangkah maka demam (bioetanol) tidak akan menjadi sakit berkepanjangan. Bagaimana pendapat Anda ?

SALAM ENERGI HIJAU

———————————-

Roy adalah mania di bBH (jangan diartikan Bra Mania), atau dalam Bahasa Indonesia yang salah kaprah : BBN Mania, atau di-Inggris-kan : Biofuel Mania. Saat ini mencangkul di perusahaan swasta yang berbasis perkebunan dan industri kelapa sawit, sebagai Researcher Biofuel Plant Production. Roy pensiun dengan masa kerja 35 tahun dari sebuah BUMN yang mengelola 10 Pabrik Gula, 2 Pabrik Bioetanol, dan 2 Pabrik Kelapa Sawit. Aktif di Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Asosiasi Pengusaha Bioetanol Indonesia (APBI) skala UKM, Asosiasi Bioenergi Indonesia

 

Sorry, the comment form is closed at this time.