Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Kembangkan Energi Tenaga Air, Angin, Panas Matahari, Panas Bumi, Dan Ombak Laut

Posted by ropiudin pada 7 April 2011


Mobil pertama ciptaan Henry Ford di Amerika sebenarnya tidak menggunakan bahan bakar fosil. Ketika pada tahun 1896 dia membuat mobil pertamanya, Thin Lizzie, dia menjejalkan etanol ke tangki bahan bakar untuk mesin dua silindernya.

Tapi Ford akhirnya harus mengakui bensin menjadi bahan bakar yang jauh lebih murah dan menghasilkan tenaga lebih besar. Ford akhirnya menggunakan bensin dan industrinya menjadi salah satu industri mobil terbesar di dunia.

Efisiensi juga menjadi kata kunci ketika Rudolph Diesel akhirnya juga mengganti bahan bakar minyak kacang untuk mesin berkompresi pertama yang dibuatnya—yang populer dengan sebutan mesin diesel—yang diciptakannya tahun 1893. Itu dilakukan karena bahan bakar fosil lebih murah, lebih bertenaga, dan pasokannya lebih pasti.

Bahan bakar fosil adalah sumber energi yang tidak terkalahkan selama dua abad ini. Kini 80 persen dari pasokan energi dunia disumbang oleh bahan bakar fosil. Enam miliar ton bahan bakar fosil yang kita gali setiap tahun menghasilkan emisi gas rumah kaca. Emisi rumah kaca ini membentuk selimut yang begitu tebal di atmosfer sehingga memerangkap panas matahari di atmosfer dan meningkatkan suhu global.

Jika energi terbarukan yang ramah lingkungan tidak segera dikembangkan secara global, lima tahun lagi dunia akan membutuhkan 99 juta barrel minyak bumi per hari. Itu artinya, kita akan menambah emisi rumah kaca, yang sejak tahun 2004 sudah menyemburkan 27 miliar ton karbon dioksida (CO) ke atmosfer per tahun.

Penghasil emisi gas rumah kaca terbesar memang bukan kendaraan, melainkan kebutuhan manusia akan listrik yang menyumbang 40 persen dari emisi karbon dioksida di dunia. Sebab sebagian besar pembangkit listrik di dunia menggunakan bahan bakar fosil. Masalahnya, sedikit sekali negara yang sudah mengembangkan sumber energi lain seperti tenaga air, angin, panas matahari, panas bumi, bahkan ombak laut.

Diet karbon

Penghematan listrik baik di rumah, di kantor, di tempat-tempat umum, maupun industri menjadi hal signifikan untuk mengurangi pemanasan global. Penataan kota yang lebih ramah lingkungan, penghematan listrik di gedung-gedung, tempat umum, dan perkantoran menjadi hal yang semakin menjadi tuntutan.

”Kita misalnya harus mulai tahu berapa jejak karbon kita. Kita harus paham bagaimana memilih peralatan elektronik yang hemat listrik, mulai dari lampu, alat-alat rumah tangga, AC, televisi, dan peralatan lainnya. Kita juga sudah harus mengenal konsep tentang diet karbon,” ujar Ichiro Suganuma, Presiden Direktur PT Panasonic Indonesia.

Diet karbon sebagai cara menekan emisi rumah kaca bisa dilakukan anggota keluarga di rumah, misalnya dengan memahami jumlah emisi dari setiap peralatan rumah tangga yang dipakai. ”Diet karbon bukan cuma membutuhkan sikap, tapi juga pengetahuan memadai tentang emisi dari setiap kegiatan kita,” ujar Suryopratomo, Direktur Pemberitaan MetroTV.

Seandainya kita mengganti satu lampu pijar saja dengan lampu hemat energi tipe compact fluorescent lamp (CFL) misalnya, kita akan mengurangi emisi setara dengan pembakaran 23 kilogram batu bara selama masa pakainya. Kalau hal ini dilakukan seluruh warga Jakarta misalnya, maka pembakaran jutaan ton batu bara bisa dicegah. Hal-hal praktis seperti itulah yang akan menjadi materi acara Green Festival 2009 di Jakarta, yang diselenggarakan Unilever Indonesia, Panasonic Indonesia, Sinar Mas, Pertamina, MetroTV, Female Radio, dan Kompas. ”Penanganan global warming bukan hanya butuh kebijakan pemerintah dan komitmen dunia usaha, tapi juga prakarsa individual di rumah, kantor, atau tempat-tempat umum,” ujar Hanny Soema Di Pradja, CEO Delta Female Indonesia.

Emisi kendaraan

Setelah kebutuhan listrik, penyebar emisi CO terbesar adalah kendaraan, mulai dari mobil, motor, pesawat terbang, atau mesin transportasi lain. Sumbangannya secara total 24 persen dari emisi CO dunia. Namun, kendaraan juga mengeluarkan emisi beracun, seperti karbon monoksida, partikel logam, atau asap berbahaya yang mengerikan.

”Pengembangan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan energi yang terbarukan terus kami kembangkan. Bahan bakar biodiesel dari pohon jarak atau mobil berbahan bakar etanol adalah beberapa contoh yang dikembangkan Pertamina,” ujar Basuki Trikora Putra, Vice President Communications Pertamina.

Bahaya emisi kendaraan bermotor kini mengancam kita. Jumlah kendaraan bermotor di dunia sudah lebih dari 880 juta unit. Di Indonesia, produksi sepeda motor saja mencapai 4 juta unit per tahun dan akan terus bertambah oleh permintaan yang terus meningkat.

Para pengambil kebijakan di banyak perkotaan juga tidak banyak memberi disinsentif untuk pemilikan kendaraan karena pajak kendaraan adalah pendapatan yang signifikan bagi pemerintah. Mobil hybrid yang diproduksi beberapa pabrikan mobil misalnya, malah dikenakan pajak lebih mahal dibanding mobil konvensional.

Di sisi lain, alternatif sepeda sebagai alat transportasi misalnya, meski banyak dikampanyekan, belum juga menjadi pilihan menarik. ”Kalau saya tinggal di Eropa yang hawanya sejuk mungkin saya mau naik sepeda setiap hari. Tapi kalau di Indonesia yang suhunya panas begini, lalu lintasnya semrawut, perilaku sopirnya ugal-ugalan, polusinya udaranya parah, lajur sepeda tidak ada, buat apa naik sepeda. Sudah capek, tidak sehat, tidak aman pula”. Jawaban yang masuk akal ini, lalu makin membenarkan asumsi bahwa kita semua ikut berkontribusi terhadap ancaman bencana yang akan menimpa kita. Tapi tidakkah sekarang saatnya kita menyadari bahwa masa depan kita tergantung pada pilihan kita sekarang.

 

Sorry, the comment form is closed at this time.