Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Produksi Biogas dari Limbah Industri Makanan

Posted by ropiudin pada 2 April 2011


Pusat Teknologi AZTI-Tecnalia yang berspesialisasi pada riset makanan telah membuka sebuah pabrik biogas yang mengambil bahan baku dari subproduk industri makanan. Pabrik tersebut menggunakan senyawa-senyawa organik di dalam limbah makanan agrikultur untuk menghasilkan energi alternatif. Hal ini turut menjadi solusi bagi AZTI-Tecnalia untuk mengurangi kadar polusi yang disebabkan limbah organik.

Pabrik biogas tersebut terletak di kompleks AZTI-Tecnalia, Derio, dan konsep produksinya adalah menghasilkan biogas kaya metana dari metabolisme anaerob materi organik di dalam subproduk makanan. Metabolisme anaerob adalah proses biologis yang menguraikan materi organik sehingga dihasilkan biogas, serta lumpur halus yang dapat digunakan sebagai suplemen bagi pertanian. Kompenen utama penyusun biogas antara lain karbon dioksida dan metana bernilai kalori tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik atau termal (panas), serta sebagai bahan bakar kendaraan.

Dengan teknik yang serupa, pada tahun 2010, perusahaan tersebut berencana untuk menghasilkan sumber energi yang mulai naik daun belakangan ini, yaitu hidrogen. Mereka berharap kelak metana dan hidrogen dapat diperoleh dari kombinasi proses fermentasi yang sama.

Para pakar di AZTI-Tecnalia terus meneliti kemungkinan untuk menghasilkan berbagai manfaat lain dari subproduk makanan agrikultur, dalam bentuk aslinya maupun dalam bentuk kombinasi dengan campuran dari sumber lain, seperti lumpur dari pabrik pemurnian atau limbah makanan rumah tangga. Campuran lainnya bisa bersumber dari makanan hewan ternak (purin), bersama dengan sisa buah-buahan dan sayur-sayuran dari pasar atau supermarket, susu, air dadih, sisa potongan-potongan ikan, limbah akuakultur, dan lain-lain.

Manfaat yang diperoleh dari pabrik biogas ini sangat besar bagi AZTI-Tecnalia. Mereka mampu mengurangi tingkat polusi yang disebabkan limbah organik. Kini, limbah yang mereka buang ke lingkungan jauh lebih aman, baik dari segi komposisi maupun bau sehingga emisi gas rumah kaca dapat dikurangi. Seiring dengan hal tersebut, perusahaan ini juga dapat mengurangi ketergantungan mereka akan sumber energi komersil, dan mulai menggunakan energi yang berhasil mereka produksi dari bahan-bahan yang telah ada.

Saat ini, pabrik biogas mereka telah menjadi pelengkap bagi pabrik utama perusahaan yang memproduksi makanan agrikultur tersebut. Percobaan dan evaluasi subproduk lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan baku energi dan produk makanan alternatif terus dilaksanakan. Seiring dengan hal ini, juga dilakukan analisis mengenai biaya dan dampak lingkungan, sekaligus mencari solusi bagi terbentuknya proses yang lebih berkualitas dan optimal.

 

Sorry, the comment form is closed at this time.