Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Energi Terbarukan Butuh Kebijakan “Feed In Tariff”

Posted by ropiudin pada 2 April 2011


Sampai saat ini, potensi energi baru dan terbarukan Indonesia belum banyak diolah. Upaya memaksimalkan pemanfaatan energi non fosil itu masih terkendala harga beli yang terlalu murah, rendahnya permintaan pasar, dan insentif yang kurang menarik. Guna memajukan industri energi terbarukan Indonesia, dibutuhkan kebijakan “feed in tariff” (harga berbasis biaya, red) dan standarisasi portfolio energi.

Hal ini terungkap dalam temu media tentang pengembangan energi baru terbarukan, yang digelar Frost & Sullivan di Jakarta, Rabu, 30 Maret 2011. Asia Pacific Vice President, Energy & Power System Practice Frost & Sullivan, Ravi Krishnaswarny mengatakan, dengan potensi yang ada, industri energi terbarukan Indonesia sebenarnya berpeluang bersaing, dengan negara-negara lain di dunia.

Tidak berkembangnya industri energi terbarukan di Indonesia, lanjutnya, disebabkan lemahnya implementasi dan tidak adanya kerangka peraturan serta kebijakan, seperti “feed in tariff” untuk menarik minat pengusaha swasta.

“Ditambah lagi beberapa tantangan industri seperti kesadaran yang rendah, insentif yang terbatas, dan infrastruktur energi yang lemah, menghambat penetrasi pasar,” ujar Ravi dalam acara yang juga dihadiri perwakilan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, serta Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Hilmi Pnigoro.

Menurut Ravi, untuk memajukan industri energi terbarukan di dalam negeri, Indonesia sebenarnya bisa meniru cara-cara yang sudah dilakukan negara lain. Seperti mengembangkan kebijakan “feed in tariff” dan standarisasi portfolio energi.

Pemerintah juga diharapkan terus mendorong investasi dan membangun fasilitas manufaktur, serta layanan untuk perlengkapan pengembangan energi terbarukan. Ia pun mengatakan, Indonesia harus dapat memanfaatkan peluang, dimana saat ini energi baru terbarukan sedang menjadi trend global.

Dalam kesempatan yang sama, Country Director Frost & Sullivan Indonesia, Eugene van de Weerd mengatakan, trend pemanfaatan energi baru terbarukan saat ini dipengaruhi sejumlah dinamikan yang saling mempengaruhi. Diantaranya kenaikan harga minyak, menurunnya produksi minyak, dan tingginya kebutuhan akan energi.

Data Energi Baru Terbarukan Indonesia:
1.Hydropower: 75.670 MW (baru termanfaatkan 4.264 MW)
2.Geothermal: 27.510 MW (baru termanfaatkan 1.052 MW)
3.Mini-hydropower: 500 MW (baru termanfaatkan 86,1 MW)
4.Biomass: 49.810 MW (baru termanfaatkan 445 MW)
5.Tenaga matahari (solar): 4,8 MW/M2/hari (baru termanfaatkan 12,1 MW)
6.Tenaga angin (Wind): 9.190 MW (baru termanfaatkan 1,1 MW)
7.Arus laut (Ocean): 35 MW (belum termanfaatkan sama sekali)

Sorry, the comment form is closed at this time.