Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Pertumbuhan Pasar Energi Terbarukan Meningkat

Posted by ropiudin pada 29 Maret 2011


Pertumbuhan pasar energi terbarukan (renewable energy/RE) terutama untuk proyek tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga biomassa diperkirakan akan meningkat secara signifikan di 2011.

Menurut Program Manager the Energy & Power Systems Practice Asia Pacific Frost & Sullivan Suchitra Sriram, dalam hal spesifikasi industri, pertumbuhan pasar RE Asia Pasifik pada 2011 akan sangat didorong oleh pembangkit pusat berdaya besar yang menggunakan tenaga angin, tenaga surya dan tenaga biomassa.

Hal tersebut akan lebih mudah dilaksanakan di negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina. Pasar tenaga angin di Asia Pasifik diperkirakan tumbuh dari 5.806 MW di 2010 menjadi 7.553 MW pada 2011 yang didorong oleh proyek-proyek di Australia, Thailand, dan Filipina.

Suchitra menjelaskan, minat para pengembang proyek telah bergeser ke proyek-proyek berskala besar di mana kapasitas turbin angin yang digunakan di atas dua MW. Dalam hal pendapatan, ukuran pasar diperkirakan USD3,89 miliar pada 2011 atau dua kali ukuran pasar pada 2010.

Dia memaparkan, investasi di pasar tenaga angin yang berpusat di Australia, Jepang, dan Filipina beberapa tahun lalu, saat ini menghadapi persaingan dari pasar negara berkembang di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam, dan juga dari Taiwan seiring dengan ditemukannya sumber tenaga angin potensial tinggi di negara-negara tersebut.

“Sejauh ini, sebagian besar proyek tenaga angin telah dikembangkan melalui investasi sektor swasta. Namun, menyadari potensi yang sangat besar di wilayah tersebut serta untuk mendiversifikasi portofolio bauran energi mereka, banyak perusahaan utility terkemuka di Asia Pasifik telah memulai rencana untuk berinvestasi dalam royek pembangkit listrik tenaga angin,” papar Suchitra melalui siaran persnya, di Jakarta, Jumat (18/2/2011).

Pasar sistem tenaga surya Asia Pasifik diperkirakan tumbuh dari 4.624 MW di 2010 menjadi 6.509 MW pada 2011. Dalam hal pendapatan, ukuran pasar diharapkan meningkat dari USD10 miliar di 2010 menjadi USD13,81 miliar pada 2011, menjadikan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 37,4 persen. Pasar utama meliputi Jepang, Thailand, Australia, Malaysia, dan Korea Selatan.

“Hampir 1 GW pembangkit tenaga surya dipasang di Jepang selama tahun 2010. Prospek pasar terlihat sangat positif dan diharapkan untuk pos lain GW 1 pada 2011,” jelasnya.

Selain Jepang, teknologi RE diperkirakan untuk mendapatkan traksi yang besar di seluruh wilayah Asia Pasifik dan diperkirakan untuk meningkatkan penambahan kapasitas pada 2011 karena ketersediaan sumber daya yang tinggi, harga yang turun, dan pengenalan kredit dan insentif tenaga matahari yang menguntungkan.

Menurutnya, teknologi RE lain yang memiliki potensi di Asia Tenggara adalah pembangkit listrik biomassa karena ketersediaan sumber dayanya yang melimpah dengan biaya rendah dan peningkatan permintaan daya di tempat dari para pemilik pabrik. Sejauh ini, diperkirakan hanya 3.000 MW yang telah digunakan dari total potensi 56 ribu MW di wilayah tersebut.

“Dengan dukungan dari pemerintah dalam bentuk FIT, dan insentif pajak, teknologi RE ini memiliki pertumbuhan pasar yang cukup besar di wilayah ini. Dengan mendorong kepemilikan asing atas investasi pembangkit listrik dengan kapasitas kurang dari 10 MW dapat mendorong industri yang selama ini kurang dimanfaatkan ini,” kata Suchitra.

Sorry, the comment form is closed at this time.