Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Unsoed ‘Launching’ Pemasak Bertenaga Surya ‘Indoor’

Posted by ropiudin pada 1 Februari 2011


Kamis, 20 Januari 2011, 15:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO – Tim peneliti dari Divisi Energi Terbarukan, Pusat Penelitian Pengembangan Teknologi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah memperkenalkan teknologi pemasak bertenaga surya ‘indoor’ tipe PSC-2009a. “Teknologi pemasak dalam ruang itu merupakan pengembangan berkelanjutan dari penelitian yang dimulai sejak 1999. Namun khusus tipe Parabolic Solar Cooker-2009a (PSC-2009a) ini, penelitiaannya dimulai sejak 2008,” kata peneliti utama, Ropiudin, di Unsoed Purwokerto, Kamis (20/1).

Menurut dia, teknologi yang memanfaatkan energi surya ini cocok diterapkan pada masyarakat perdesaaan dalam rangka pengembangan desa mandiri energi. “Apalagi Indonesia memiliki potensi energi surya yang cukup besar, tersedia sepanjang tahun, dan belum dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, pengembangan dan pemanfaatan surya termal sebagai teknologi energi di pedesaan juga belum optimal,” katanya.

Ia mengatakan, teknologi tepat guna berupa pemasak surya tipe parabola PSC-2009a merupakan teknologi alternatif yang hemat energi dan ramah lingkungan. Menurut dia, penggunaan teknologi ini diharapkan akan mampu membantu masyarakat pedesaan untuk mengurangi biaya energi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, dan mengurangi polusi lingkungan akibat aktivitas memasak.

Dalam hal ini, kata dia, teknologi PSC-2009a memiliki prinsip kerja yang memungkinkan kegiatan memasak tetap berlangsung di dalam ruangan. Sementara teknologi sejenis yang ada selama ini, lanjutnya, tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan memasak di dalam ruangan.

“Kegiatan memasak di dalam ruangan merupakan budaya memasak sebagian besar masyarakat, termasuk masyarakat pedesaan. Dengan demikian secara sosial, teknologi ini tidak akan mengubah kebiasaan memasak,” kata dia yang juga dosen Jurusan Teknologi Pertanian Unsoed.

Menurut dia, pemanfaatan teknologi PSC-2009a ini dapat mengurangi biaya energi memasak hingga 75 persen. Selain itu, kata dia, teknologi ini memiliki bentuk dan cara kerja sederhana sehingga tidak memerlukan pengetahuan tinggi. “Bahkan, masyarakat pun dapat membuatnya sendiri dengan peralatan sederhana. Hanya saja, untuk alat multireflektor, sedang kami ajukan hak paten,” katanya.

Mengenai cara kerja teknologi ini, dia mengatakan, energi surya yang dipancarkan matahari tersebut dikumpulkan dalam konsentrator parabola (pengumpul cahaya) agar terkonsetrasi dan terpantulkan ke arah reflektor untuk disalurkan ke kompor atau tungku melalui pipa. Menurut dia, sistem tansmisi energi panas ini menggunakan refektor yang terbuat dari alumunium foil dan cermin.

“Dalam hal ini kami mengacu pada hukum Snellius mengenai sudut datang dan sudut pantul cahaya sehingga tingkat panas yang dihasilkan dapat diatur sesuai keinginan. Pada alat ini juga dilengkapi tuas pengatur kemiringan dan perputaran parabola sehingga dapat digerakkan untuk menyesuaikan arah matahari,” katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan, teknologi tepat guna ini belum dipasarkan karena masih dalam tahap penerapan secara massal di Desa Watu Agung, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, sebanyak 30 unit yang didanai Kementerian Riset dan Teknologi. Dia mengakui, teknologi ini masih terkendala dalam sistem penyimpanan energi sehingga hanya dapat dimanfaatkan pada siang hari dalam kondisi cuaca cerah.

“Kami berencana untuk mengembangkan alat penyimpan energi surya (solar thermal storage) sehingga alat ini dapat digunakan pada malam hari,” katanya. Peneliti lainnya, Budi Dharmawan mengatakan, harga satu unit pemasak bertenaga surya PSC-2009a ini mencapai Rp 3,6 juta.

Meskipun demikian, dia mengatakan, pemanfaat teknologi PSC-2009a memiliki nilai ekonomis karena dapat memanfaatkan energi secara gratis, ramah lingkungan, dan aman,” katanya. “Namun perlu diingat, alat ini hanya sebagai subtitusi atau energi alternatif di saat terjadi kelangkaan pasokan gas terutama di wilayah perdesaan dan hanya dapat digunakan pada kondisi cuaca cerah di siang hari,” katanya.

Menurut dia, industri PSC-2009a juga layak didirikan karena berdasarkan aliran kas bersih (cash flow) menghasilkan 17 unit dan “break even point” (BEP) per rupiah sebesar Rp 32,7 juta. Ia mengatakan, waktu pengembalian modal (payback period) adalah selama 1,37 tahun dengan harga jual per unit sebesar Rp 3,6 juta.

Red: Djibril Muhammad
Sumber: antara

 

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: