Thermal System and Renewable Energy Engineering

It's about clean and cheap energy

Pelopori Energi Terbarukan di Riau, RAPP Bangun Pabrik Methanol Pengganti BBM USD 2,3 Juta

Posted by ropiudin pada 11 Mei 2012



PT RAPP menjadi pelopor industri energi terbarukan di Riau. Raksasa industri kertas tersebut berinvestasi USD 2,3 juta untuk bangun pabrik methanol pengganti BBM.

Riauterkini-JAKARTA-PT Riau Pulp and Paper (RAPP) menginvestasikan US$ 2,3 juta untuk membangun pabrik methanol (methanol plant) berbasis kayu untuk menggantikan penggunaan bahan bakar minyak dengan methanol yang merupakan bahan bakar terbarukan di Provinsi Riau.

“Investasi ini juga sebagai salah satu langkah perusahaan untuk mengurangi efek gas rumah kaca. Investasi ini sebagai salah satu upaya perusahaan untuk menggunakan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan,” kata Presiden Komisaris PT RAPP Tony Wenas dalam diskusi Forum Wartawan Kehutanan (Forwahut) di Jakarta, Selasa (8/5/12).

Penggunaan energi terbarukan ini, kata Tony, merupakan salah satu inovasi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap bahan bakar minyak. Inovasi ini, lanjut Tony, akan membuktikan usaha dan produk yang dihasilan RAPP benar-benar ramah lingkungan.

Menurutnya, perusahaan penghasil bubur kertas ini menerapkan sejumlah strategi dalam manajemen kehutanan yang berkelanjutan. “Selain menerapkan energi yang terbarukan, perusahaan juga melakukan pembibitan, pengamanan kawasan hutan, komitmen dalam menjaga hutan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi, dan melakukan pengelolaan kawasan gambut,” katanya.

Tony menambahkan penggunaan limbah bahan baku produksi dapat menghasilkan energi dalam pemenuhan kebutuhan listrik di pabrik. Saat ini, pabrik RAPP di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau, memiliki kapasitas pembangkit listrik terpasang sebesar 350 megawatt.

Hingga kini, katanya, sekitar 87 persen energi listrik untuk pabrik RAPP dihasilkan dari energi terbarukan dengan mengolah black liquor yang merupakan hasil sampingan dalam proses pembuatan pulp serta wood bark. “Penggunaan batubara dan gas kini hanya tinggal 13 persen,” katanya.

Sedangkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan dan Pengolahan Hasil Hutan Kemenhut Putera Parthama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengatakan, pihaknya tengah menyusun roadmap pengembangan bioenergi yang diperoleh dari hasil hutan kayu. Sebagai langkah awal, pembangunan hutan tanaman industri (HTI) penghasil energi akan didorong.

Putera mmengungkapkan peluang pengembangan bioenergi sangat menjanjikan mengingat melimpahnya hasil kayu bernilai kalori tinggi seperti Kaliandra dan Sengon. Bahkan, seru Putera, limbah industri kayu juga dapat disulap sebagai bahan bakar kebutuhan pembangkit, bahan bakar otomotif, hingga kebutuhan rumah tangga. Bahan baku woodpellet, misalnya, dapat diperoleh dari limbah industri penggergajian, limbah tebangan, dan limbah industri kayu lainnya.

Hasil olahan kayu dapat dikemas dalam bentuk pellet yang berdiameter 6 – 10 mm dan panjang 10 – 30 mm. Dengan Kadar abu yang rendah sekitar 0,5%, woodpellet mengandung tingkat kapasitas energi hingga 4,7 kWh per kilogram atau 19,6 gigaloule per milligram.

“Kemenhut pernah diminta untuk menyanggupi besaran kemampuan dalam menyediakan energi alternatif pengganti fosil. Untuk itu, kami sedang menyusun roadmap agar pengembangannya lebih terarah,” ujar Putera Parthama dalam diskusi dua mingguan dengan Forum Wartawan Kehutanan (Forwahut), di Jakarta, Selasa (8/5/12).

Kemenhut juga akan mendorong pemegang izin HTI dan HPH menyisihkan 10% lahan hutan tanaman industri untuk memproduksi tanaman kayu penghasil bioenergi. Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif baik untuk investasi pembangunan pabrik maupun pengembangan dan penguasaan teknologi pendukung.

Belum Sistematis

Putera mengakui hingga upaya-upaya dalam mendorong pemanfaatan hutan sebagai lumbung bioenergi belum berlangsung sistematis. Bahkan, feedstock masih sangat terbatas dengan teknologi estherifikasi dan transesterifikasi belum tuntas.

Padahal, Kemenhut ingin membidani rancangan umum nasional bioenergi kehutanan sebagai program nasional prioritas. Menurut Putera, harmonisasi lintas kementerian perlu didorong agar realisasi potensi bioenergi kehutanan tidak menjadi wacana belaka.

Putera menilai pengembangan sektor kehutanan sebagai pemasok kebutuhan energi nasional dapat dicapai apabila sejumlah faktor dan kondisi pendukung dapat segera direalisasikan. Pembangunan sejumlah pabrik pengolahan nantinya harus terintegrasi dengan pembangunan hutan tanaman biomassa. “Kualitas produk bioenergi dari kayu juga harus diprioritaskan agar lebih kompetitif dengan energi yang berasal dari fosil,” katanya.

Konsep pengembangan bioenergi kehutanan sebenarnya bukan barang baru, hanya saja implementasinya belum dilakukan secara masif. Kementerian Kehutanan dan Korea Forest Service telah menyepakati perjanjian kerja sama pengembangan industri woodpellet energi. Korea Selatan berencana menginvestasikan dana hingga Rp 6 triliun dalam membangun hutan tanaman industri seluas 200.000 ha.

About these ads

Maaf, form komentar ditutup saat ini.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 97 pengikut lainnya.